Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Oktober 2010

Bahagia Dalam Sedih Sepulang Ibu Haji (II)

Sesampainya di rumah di tengah ramainya kerabat dan tetangga yang menjenguk Ibu, kami panggilkan Dokter untuk mengetahui kondisi Ibu, dan pada waktu itu hasil pemeriksaan sementara Ibu hanya kelelahan, kondisi itu pun membuat kami tenang. Setelah diberikan obat dan vitamin kondisi Ibu berangsur-angsur membaik.

Ketengan kami tidak berlangsung lama,karena setelah beberapa hari berjalan kondisi kesehatan Ibu kami mengalami drop lagi, Kami coba memeriksakan lebih intensif lagi ke Rumah Sakit yaitu JIH, Pada waktu itu langsung dipertemukan dengan dokter spesialis, Pemeriksaan pun memerlukan waktu yang lama, dari pemeriksaan fisik sampai ke scan. Setelah menjalani pemeriksaan beberapa saat salah satu hasilnya adalah bahwa HB Ibu terlalu rendah yaitu dinilai 5 padahal normalnya adalah 12, kesimpulan Dokter sementara penyebab drob nya kondisi Ibu kami adalah HB yang rendah sehingga harus dilakukan tranfusi darah.

Salah satu hasil pemeriksaan yang bikin kami kaget adalah bahwa di dalam tubuh Ibu ditemukan kanker yaitu di pundak yang jika saya raba lumayan besar padahal pada waktu berangkat haji kanker itu belum kelihatan sama sekali. Nah Dokter memberikan kesimpulan lagi bahwa penurunan kondisi fisik Ibu termasuk turunya HB adalah karena kanker yang dideritanya itu. Melihat kondisi ini kami sangat sedih mengingat beliau tinggal satu-satunya orang tua kami yang sangat kami cintai dan pingin saya mulyakan dengan segenap jiwa raga yang saya punyai. Kami tidak putus asa dan terus mencari penyelesaian secara medis, Oleh salah satu Dokter kami dirujuk ke Dokter spesialis Kanker yang merupakan Dokter RS. Panti Rapih. Kami tidak buang-buang waktu secepatnya kami konsultasi dengan beliau sambil membawa Ibu kami yang sudah sangat kesulitan bergerak apalagi berjalan.

Dalam pemeriksaan selanjutnya, ditengah kekhawatiran kami yang semakin menjadi, Bak disambar petir di siang bolong, Dokter spesialis kanker itu memberikan pernyataan kepada kami yang sangat mengagetkan dan membuat hancur hati kami yaitu bahwa masa hidup Ibu diprediksi tinggal tiga bulan. Karena kanker sudah merasuk kebagian tubuh bagian dalam dan sudah merusak beberapa organ vital. Hancur hati kami mendengar pernyataan itu, darah yang mengalir seakan tiba-tiba berhenti, badan yang tegap berdiri seakan-akan sudah tidak bisa menahan beban tubuh ini, aku yang biasanya tegar dan jarang sekali mengeluarkan air mata, menatap kosong ke langit-langit rumah sakit dan air mata pun tak tertahankan. Pikirku inikah akhir kebersamaanku bersama Ibu, Ibu yang telah membesarkanku, mendidiku, mendampingiku dalam kondisi kehidupan yang serba kekurangan. Aku sering inget ketika ditagih spp di sekolah, aku selau melapor ke Ibu, dengan segenap kemapuanya berusaha mencukupi tagihan spp sekolahku, ku inget kadang hanya menjual apa yang ada di kebun yang tidak seberapa hasilnya, ada daun sirih, pisang, menjual kelapa, buah rambutan. Aku juga masih inget ketika Ibu berusaha memperbaiki perekonomian kami dengan berjualan bubur dan nasi. Aktifitas jualan yang harus dimulai dari jam dua malam karena harus dimasak lebih dulu sebelum disajikan. Begitu tangguh dan gigihnya Ibu kami.

Waktu pun berjalan,hari demi hari,minggu demi minggu, bulan demi bulan dan pernyataan dokter itu pun bisa dikatakan benar, dalam waktu tiga bulan lebih sedikit kondisi ibu sudah sangat memprihatinkan, badan kurus kering tinggal kulit tipis yang membungkus tulang. Makan sudah tidak bisa bahkan mengingat orang yang ada disekitar saja sudah tidak bisa, Aku sadar betul inilah waktunya kami harus berpisah. Kutata hatiku ini, walau masih sangat sulit. Mengingat aku adalah anak ragil, anak yang paling deket dengan Ibu. Akulah anak yang paling "ditresnani" di antara yang lain. Kadang terbersit dalam pemikiranku sebuah permintaan kepada Allah, biar Ibu diberi kesempatan lagi untuk hidup, walaupun tidak bisa apa-apa, tapi jangan panggil Ibu lebih cepat Ya Allah, pintaku pada waktu itu. Aku ingin memuliakanya, karena saat itu adalah saatnya perekonimianku sedikit lebih mapan, karena sepanjang hidupnya Ibu hidup dengan rekoso alias tidak selayaknya seperti itu.

Tapi permohonan doaku belum dikabulkan, pikirku mungkin Allah lebih pantas memuliakan Ibu dari pada aku. Tepat tengah malam di hari Kamis malam Ibu dipanggil di sisi Allah SWT tepat tanggal 04-04-08. Di dalam kedukaanku yang amat mendalam terselip rasa sukur, di mana saya diberikan kesempatan untuk bisa menaikan Haji Ibu, Saya haqqul yakin Allah sudah mengatur semuanya. Alhamdulillah saya bisa memberikan hadiah terindah dimasa akhir hidup Ibuku."Allahummaghfirlaha, Warhamha, Wa'aafihi Wa'fu'anha..Amien".

Kisah selanjutnya menurut saya bukan hanya sebuah kebetulan, setelah dua tahun kami dapat memberangkatkan Ibu haji, secara tidak terduga saya mendapat fasilitas berangkat haji dari kantor, Subhanallah walhamdulillah kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk mendaftarkan istri untuk ikut serta mendaftarkan sebagai calon jamaah haji. Fa Insa Allah porsi kami ada ditahun 2013. Kuberpikir ini adalah hasil doa orang tua yang didengar Allah.

Aku juga juga harus berterima kasih kepada wanita cantik, tercantik di dunia menurutku, yang sudah mau menerima pria yang menurutku penuh dengan kekurangan, wanita cantik itu adalah istriku. Semoga keikhlasmu memberikan tabungan untuk bantuan haji ibu, dapat menjadi benih-benih kebaikan buat anak-anak kita, hubungan kita, dan jalan hidup kita. Amien

kawulo alit hanafi

Rabu, 06 Oktober 2010

Bahagia Dalam Sedih Sepulang Ibu Haji (Bag I)

Salah satu peristiwa tersedih yang saya alami pada awal tahun 2008. Pada tahun 2006 saya diskusi dengan istri, pada waktu itu mempunyai sedikit tabungan. Saya menyampaikan maksud hati saya dan merupakan cita-cita panjang yang sudah lama saya dicita-citakan yaitu untuk memberangkatkan haji Ibu kami tercinta. Akhirnya istri setuju dengan ikhlas dan memberikan support penuh ke saya. Sesuai peraturan kami harus mempunyai minimal 20 juta untuk mendapatkan porsi keberangkatan di tahun 2007 akhir. Dan syarat itu kami penuhi dengan tabungan yang sudah lama kami siapkan

Singkat cerita menjelang bulan keberangkatan kamipun sibuk mempersiapkan peralatan yang akan di pakai, Termasuk saya mondar-mandir untuk urusan administrasi dan kesehatan, karena Ibu tidak mau diantar selain oleh saya, menurut beliau saya termasuk paling pinter "ngemong" orang tua, subhanallah, alhamdulillah, sanjungan yang mengharukan. Sampai proses keberangkatanya kami sibuk menyiapkan dari peralatan, pakaian ihram sampai bekal yang harus dibawa dari beras sampai Indomie, Dan Ibu berangkat dengan di iringi pengajian di Masjid terbesar di kampung kami dengan meriah di antar oleh warga kampung kami termasuk oleh anak, cucu dan buyut

Setelah menunggu proses panjang hampir 40 hari sampai waktu kepulangan Ibu, Anak cucu buyut begitu suka citanya ingin menyambut neneknya yang baru pulang dari haji. Mengingat kami adalah keluarga besar ditambah budaya dan tradisi di dusun kami dimana ada ceremonial prosesi penyambutan di Masjid bersama warga.

Pagi menjelang kepulangan Ibu sekali lagi kami mempersiapkan segalanya termasuk ada penyambutan di masjid. Pagi-pagi betul kami memjemput kepulangan Ibu yaitu di Masjid Agung Sleman tempat dimana semua kloter diturunkan. Kami membayangkan peristiwa bahagia tersebut. Terlihat arak-arakan bus yang datang dari Solo. Satu persatu jamaah turun, kami cari sosok Ibu yang memang postur badanya kecil karena memang sudah sepuh dan dari dahulu memang tidak gemuk. Satu persatu kami lihat jamaah dari jarak 70 meter karena memang para penjemput tidak boleh masuk. Ternyata Ibu tidak kunjung muncul di antara para jamaah itu. Rasa risau pun mulai menghantui saya, sambil berkaca-kaca membayangkan yang enggak-enggak, Ibuku kok nggak ada. Bingung, risau, sedih campur jadi satu. Setelah lebih dari 30 menit kami sangat kaget, menemukan Ibu yang masih duduk di deket Bus, tapi masya Allah, Ibu dalam kondisi sakit, tidak bisa bergerak, dengan kondisi badan yang seperti tidak terurus, bahkan melihat anak dan cucu saja tidak bisa. Melihat kondisi itu saya meloncat pagar Masjid tanpa menghiraukan larangan para satpam penjaga yang hanya membatasi satu orang penjemput padahal satu jatah tersebut sudah dipakai sama kakak saya.